Mencetak Generasi Pemimpin Umat

Memasuki tahun 2018 amanat kepengurusan yang dipercayakan kepada santri kelas VI saatnya dilimpahkan kepada adik kelas mereka. Untuk mewadahi serah terima jabatan itu diselenggarakanlah kegiatan pergarus. Di dalamnya termuat acara PKM (Pelatihan Kepemimpinan dan Manajemen), Pemilihan Formatur, Debat Program, Sidang Komisi, Sidang Pleno, LPJ (Laporan Pertanggungjawaban), Pelantikan dan Serah Terima Amanah. Sebelum dilaksanakan acara PERGARUS ini, dibentuk terlebih dahulu Panitia Pergantian Pengurus/P3 ISMAH-ISWAH yang terdiri dari organizing commite dan steering commite.
Pergarus diawali dengan acara PKM yang dilaksanakan pada tanggal 15 Januari 2018 atau tiga hari setelah santri kelas V kembali ke pondok. Tujuannya untuk memberikan bekal kepada para calon pengurus ISMAH dan ISWAH. Di sini mereka dilatih untuk memiliki sikap yang tepat dan mental yang kuat.
Pembukaan digelar pada hari Senin malam di Aula Serba Guna. Acara ini dibuka langsung oleh Bapak Pengasuh. Acara semakin menarik karena panitia berdandan ala pangantin adat Indonesia dan mambawa nasi tumpeng sebagai simbol peresmian. Bapak Kyai menyampaikan beberapa dalil tentang kepemimpinan berdasarkan ayat Al-Quran. Selain itu beliau menghimbau kepada semua pihak untuk tidak menggunakan kekerasan dalam mengurus santri karena dianggap tidak sesuai dengan jaman sekarang.
Ada beberapa perbedaan dalam PKM tahun ini. Jika dulu peserta bebas masuk ke asrama, sekarang mereka harus rela dikarantina dalam satu ruangan. PKM tahun ini juga ditambah dengan shalat tahajjud dan hajat bersama panitia. Program spiritual ini menjadi nilai plus dan diapresiasi oleh Ibu Nyai.
Jika diperhatikan, acara PKM tak ubahnya kegiatan OSBA maupun OSPAM di lembaga luar. Para peserta harus berani tampil konyol dengan atribut yang dianggap tidak masuk akal. Aksesoris yang menjadi syarat wajib acara ini antara lain botol air mineral, dua telor mentah yang harus dijaga agar tidak pecah, kaos kaki, tali sepatu serta ikat pinggang dari tali rafia yang semuanya harus serba kuning. Bukan hanya itu, masing-masing peserta wajib membawa tas dari plastik dan memakai kalung bertuliskan julukan masing-masing sesuai warna kelompok.“ Serasa menjadi orang lain saja. Pertama karena penampilan 100% berubah dan tidak bisa dikatakan good looking”. Ujar Taufik Fajar ketika ditanya tentang atribut PKM yang dipakainya.
Dalam PKM peserta diajari untuk melatih sikap dan mental terutama kesabaran. Pasalnya mereka harus menerima ujian berupa amarah, bentakan, latihan ketangkasan bahkan doktrin jiwa dan psikis. Pondok tidak salah memilih kelas lima sebagai peserta. Mereka telah dianggap mampu dan bisa menahan berbagai perilaku hidup disiplin sebagai pembelajaran sarat makna sebelum mengemban amanah sebagai pemegang tombak kepemimpinan organisasi.
Memasuki hari pertama, dengan semangat juang untuk melangkah ke depan tanpa pernah henti, semua peserta mengikuti perintah dan aba-aba dari panitia. Secara kasat mata, semua intruksi penuh dengan penyiksaan dan pembantaian namun jika dicermati itu semua terdapat sebuah pelajaran penting dalam sebuah kepengurusan yang akan mereka ketahui kelak. Disiplin dan amanah adalah sebuah hal yang penting yang harus dimiliki oleh semua calon pengurus. Di samping itu, menjadi pengurus tak cukup hanya dengan seni dan praktik, mereka juga harus memiliki materi maupun teori agar organisasi berjalan dengan baik.
Di hari pertama pula panitia PKM membagi hari menjadi dua sesi latihan serta mendatangkan 2 narasumaber hebat untuk mencekoki calon pengurus dengan berbagai teori kepemimpinan dalam sebuah organisasi. Ustad Holil Hasyim, M. Pd, CH, CHt, IBH CI, M. Psh sebagai narasumber pertama yang juga berprofesi sebagai seorang psikiater dan telah memiliki banyak pengalaman serta berkiprah ke barbagai daerah.
Sampai saat ini beliau masih aktif dalam dunia kejiwaan tersebut. Adapun karir yang masih dijalaninya sampai saat ini ialah menjadi Dosen di UNUJA (Universitas Nurul Jadid), menjadi Guru Bahasa Inggris di MAN Nurul Jadid, menjadi bagian teoptraphy Rumah Sakit Rizani, menjadi Trainer dan Motivator serta berbagai profesi yang lain. Banyak ilmu yang beliau tularkan kepada calon pengurus, mulai bagaimana cara memimpin, mengatur organisasi, lebih-lebih pemahaman tentang sebuah arti organisasi yang beliau logikakan seperti rumah. Durasi yang beliau miliki dari pukul 08.00 sampai pukul 13.00 WIB yang beliau gunakan dalam dua bagian.
Selama PKM, semua kegiatan peserta diatur dan dikendalikan oleh panitia . Semua langkah dan tingkah laku penuh dengan disiplin yang ketat. Hal seperti ini adalah sebuah pendidikan tentang bagaimana seorang pengurus menyikapi sebuah permasalahan. “Mental benar-benar dilatih hingga rasa malu sedikit demi sedikit musnah” timpal Nur Muhammad Ihsan salah satu peserta putra. Acara dilanjutkan dengan istirahat, 30 menit merupakan waktu kebebasan bagi calon pengurus untuk bernafas lega. Ketika suara panitia terdengar bersahutan semua peserta harus bergegas untuk pergi ke lapangan. Panas dan terik matahari yang menyegat, bukan lagi alasan untuk menghindar. Semua terasa tak ada yang lebih penting dari pada amanah. Selesai acara panitia memberikan hiburan berupa nonton bersama shalawat nabi Syubbanul Muslimin dan diberi kebebasan untuk bersantai ria mengangkat tangan.
Saat hari semakin sore, panitia kembali mendatangkan Narasumber hebat, beliau adalah Alumni Al-Mashduqiah, yang tak perlu lagi diragukan tentang kepiawaian dalam kepengurusan organisasi bidang keuangan. Ustad Sahlan Ali Wafa, S.Pd.I memasuki gedung kehormatan (Aula Serba Guna) dengan memberikan tatapan penuh keyakinan. Semua calon pengurus sangat antusias menyimak dan memperhatikan apa yang disampaikan oleh beliau. Tak lepas dari sesi tanya jawab, yang menimbulkan suasana semakin hidup. Acara berakhir pukul 16.00 WIB.
Tak cukup sampai di sana, panitia menyuguhkan sebuah sesi spiritual sebagai bekal kepemimpinan di Pondok Pesantren. Ustadz Agus meminta dua orang peserta untuk menelfon ibundanya dengan tujuan meminta maaf atas segala kekhilafan yang telah diperbuat dan berterima kasih atas jasa-jasa yang telah beliau curahkan. Alhasil semua peserta bahkan panitia yang hadir merasa terharu sampai menyucurkan air mata.
Ketika malam hari kegiatan diisi dengan diskusi tentang keorganisasian yang dibimbing oleh Ustad Nur Ahmad Silsila S.Sy. Acara diskusi ini layaknya acara debat. Yang setiap penanya tak mau kalah kepada jawaban peserta yang berpresentasi. Suasana menjadi panas, berbagai permasalahan dilontarkan. Hal ini dapat memberikan penerangan kepada semua calon pengurus, bahwa dalam organisasi nantinya, akan penuh dengan berbagai problematika. Larut malam seakan tak terasa, hawa dingin tak lagi menusuk pori-pori. Pukul 22.00 WIB tak lagi menjadi waktu untuk mengusaikan acara.
Memasuki hari kedua ada sedikit perbedaan dan perubahan jadwal dibanding tahun-tahun sebelumnya. Para peserta diwajibkan mengikuti kegiatan KBM walau hanya sampai jam kelima. Efeknya adalah pembelajaran yang kurang efektif karena seluruh peserta kelelahan sehingga banyak yang ‘tumbang’ ketika penyampaian materi. Namun masuk kelas adalah kewajiban meski hanya digunakan untuk menyegarkan badan.
Setelah shalat dhuhur selepas sekolah para peserta harus berkutat lagi dengan kegiatan PKM. Mau tak mau senyum kembali ditahan, pandangan rata-rata air, badan tegap, kaki merapat dan mematuhi segala perintah panitia atau mereka akan dihukum. Sekitar pukul 13.00 narasumber sesi ketiga memasuki gedung aula. Kali ini pelatihan diisi oleh penyaji kondang asal Gersik Mr. Afif Hidayatullah S.E S.Pd M.Ak CH CHtC.MA yang dibantu oleh motivator muda Muhammad Fauzan salah satu anggota Lembaga Pengembangan Bahasa Arab Nasional dan masih duduk di bangku kuliah jurusan tafsir Al-Quran.
Mas Fauzan langsung membuka acara dengan penuh semangat. Satu kalimat beliau ubah dari “tak kenal maka tak sayang” menjadi “sayang dulu baru kenal”. Karena karakternya yang masih muda para peserta merasa tertarik dan termotivasi. Hal ini terlihat dari sikap mereka yang semangat mendengarkan sepanjang waktu pelatihan.
Sesi 3 diakhiri dengan hypnotherapy yang dilakukan oleh Mas Afif. Beliau membimbing para peserta untuk menanamkan impian dan meninggalkan segala macam faktor penghambat dengan cara hypnotherapy. Ustadz Asmopur selaku moderator menambahkan bahwa para narasumber tidak bisa mengubah perilaku anda secara langsung. Mereka hanya menuntun pada jalan yang terbaik agar mental kepemimpinan tertanam kuat di dalam diri mereka.
Kegiatan dilanjutkan pada malam hari sekaligus mengakhiri acara PKM. Hal ini, KH. Dr. Mukhlisin Sa’ad, MA selaku pengasuh menyampaiakan pesan dan nasehat kepada calon pengurus yang sebentar lagi akan mengemban amanah kepengurusan ISMAH-ISWAH masa khidmah 2018-2019. Beliau menyampaikan bahwa hidup di pondok adalah belajar. Beliau mengambil kajian dari UNESCO tentang belajar atau learning. Learning to know, learning to do, learning to be, and learning to live together.Inti dari sambutan beliau adalah himbauan untuk menjadi pengurus yang baik dan handal. Pemimpin yang mengayomi dengan hati tanpa pamrih.
Peserta benar-benar dibuat marah oleh panitia setelah acara ditutup. Namun bukan itu tujuan sebenarnya, di akhir acara dipilih peserta terbaik yang diraih oleh Dicky Hamdan untuk putra dan Findi Oktaviani dari putri. Momentum ini juga digunakan untuk menyampaikan pesan dan kesan selama mengikuti PKM baik dari panitia maupun peserta.
“Saya pasrah ketika panitia mengatur segala gerak-gerik kami. Kami benar-benar diasah untuk menjadi pamimpin yang tegas. Atas segalanya saya sampaikan terima kasih” begitulah kesan yang dilontarkan oleh Taufik Hidayah. Pada tahun yang akan datang Bapak Kyai berharap peserta PKM bukan hanya untuk kelas V saja. Calon pengurus dari kelas IV juga diberi bekal agar kepengurusan lebih optimal.
